Sebuah Cerpen Tentang Secret Admirer #Part 2 – Dont Go From My Life

https://deasynezz.files.wordpress.com/2012/02/puisi-perpisahan.jpg DONT GO FROM MY LIFE

Yang belum baca PART I sebaiknya baca dulu cerpennya DISINI

Ardi terpekur duduk diam sendiri di teras rumahnya saat itu. Ada rasa sesak di dadanya saat menerima sebuah undangan pernikahan yang di antarkan seseorang sore tadi. Sekali lagi di bacanya nama yang tertera di atas kertas undangan itu, ”Kami Yang Berbahagia RIA & DANI” . Sakit sekali rasanya menerima kenyataan bahwa gadis yang di pacarinya beberapa tahun kemarin kini menikah dengan orang lain.

Ingatannya kembali melayang ke waktu sebulan yang lalu, saat itu Ria tidak bisa di hubungi sama sekali. Ponselnya pun di matikan selama berhari-hari. Perasaan Ardi bingung waktu itu, tak ada angin tak ada hujan dan tak ada masalah apapun tiba-tiba kekasihnya itu seperti menghilang di telan bumi tanpa kabar berita yang jelas. Namun baru beberapa hari kemudian Ria kembali menghubunginya dan meminta Ardi menemuinya di sebuah tempat untuk membicarakan sebuah masalah yang kelihatannya sangat penting dan tak bisa di tawar-tawar lagi. “Baiklah… Nanti tepat jam 5 sore aku akan datang” Jawab Ardi mengiyakan dengan perasaan penuh tanda tanya memenuhi rongga di kepalanya.

Sabtu sore, di sebuah pinggir pantai…
Ardi dan Ria kini duduk bersama dalam sebuah bangku panjang yang ada di tepi pantai itu. Udara sore begitu sejuk, semilir anginnya lembut membelai tubuh mereka. Ardi yang begitu penasaran dan langsung mencecar Ria dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan Ria.

————
”Kamu beberapa hari kemana.?”,
”Kenapa ponsel-nya tidak aktif terus.?”,
”Susah banget sih di hubungi.?”,
”Kok tidak ada kabar sama sekali.?”,
dan berbagai pertanyaan yang di balas Ria dengan sikap diam. Tak lama kemudian mata Ria tampak berkaca-kaca. Ardi tertegun dan menyadari sikapnya yang mungkin sedikit agak kasar barusan.

”sorry…”
lanjutnya kemudian.

”boleh kamu cerita sebenarnya ada apa.?”
sambungnya sambil menggenggam tangan gadis itu dan menatap lekat matanya.

Ria tak kuasa membalas tatapan Ardi dan membuang pandangannya kearah lain, ia tak ingin jika Ardi melihatnya sedang menumpahkan air matanya sekarang.

”oke… Pelan-pelan aja, sekarang coba minum dulu. Sebotol air ini mungkin bisa lebih menenangkan perasaanmu”
Kata ardi sambil menyodorkan sebotol air mineral. Ria mengangguk dan meminum sebotol air pemberian Ardi sedikit. Sepertinya kali ini Ria bisa lebih mengontrol emosinya.

Ekspresi Ria kini jauh lebih tenang, tangisnya sudah berhenti dan suaranya tidak bergetar lagi. ”Maaf ar… Jika beberapa hari ini aku ngilang dan gak ngasih kabar sama sekali. Aku sedang stress dan ingin sendiri”. Katanya sejurus kemudian.

”Kamu punya masalah.? Kenapa tidak kita bicarakan berdua.? Boleh tau masalahnya apa.?”
tanya Ardi pelan.

”Ini tentang bapak, dan tentang kita juga…”
jawab Ria.

”Bapak.? Kita.? Lalu apa hubungannya.? Bapak kenapa.?”
Ardi menyeritkan dahi tak mengerti.

”Beberapa hari yang lalu bapak kedatangan tamu, mereka datang dalam rangka lamaran”
Kata Ria pelan, sementara Ardi mendengarkan dengan seksama dan merasa mulai ada yang tidak beres kali ini.

”mereka datang hendak melamar ku dan ternyata bapak malah menyetujuinya”
setelah berkata begitu Ria mulai menangis lagi. Ardi langsung merasa merinding dan tubuhnya terasa lemas saat itu juga.

”dan ternyata bapak malah menyetujuinya…”
kata-kata terakhir barusan meski di ucapkan pelan tapi bagaikan suara petir maha dahsyat di telinganya. Ardi terdiam tak bisa berkata-kata lagi, dadanya terasa sesak… sesak sekali…

Di hari berikutnya Ardi berusaha menemui orang tua Ria dan menanyakan apa sebabnya mereka menerima lamaran orang itu. Intinya mereka ingin anaknya cepat menikah dan rupanya mereka menilai Ardi belum cukup matang untuk menjadi calon menantu mereka. Orang tua Ria menjelaskan dengan penuh kehati-hatian demi menjaga perasaan Ardi dan berusaha memberi pengertian padanya. Awalnya Ardi tidak bisa menerima keputusan itu, dan berusaha meyakinkan kedua orang tua Ria bahwa dia mampu dan dapat di andalkan. Sayang, keputusan telah di buat, lamaran telah di terima dan tak mungkin dapat di batalkan lagi. Ardi sangat kecewa dan hanya bisa pulang dengan langkah gontai.

Sejak kejadian itu Ardi sering menyendiri dan duduk melamun. Seperti biasa Ardi sempat menceritakan sedikit masalahnya pada Nessa. Nessa awalnya terkejut juga dengan apa yang tengah di alami Ardi. Namun sebagai seorang sahabat yang baik Nessa selalu men-support dan menemani Ardi agar tidak kesepian dan sanggup menghadapi masalahnya meski hanya lewat telepon. Nessa bahkan sempat meng-usulkan pada Ardi bagaimana jika ia mengambil cuti sejenak untuk liburan agar tidak terlalu stress dan bisa mencari suasana baru.

Ardi termenung dan memikirkan ide Nessa. “Nessa bener, aku gak mungkin kayak gini terus. Harus bangkit dan menatap masa depan, hidup terus berjalan dan badai pasti berlalu. sepertinya semuanya akan berawal dari sini” gumam Ardi suatu hari.

Saat Ardi menceritakan rencananya untuk cuti liburan pada ortunya, sang mama langsung menyetujuinya sebab kebetulan keluarga mereka sudah lama tidak pulang. Maka di putuskan kali ini Ardi dan keluarganya akan mengambil cuti selama beberapa bulan untuk pulang ke jawa karena selama belasan tahun merantau mereka belum pernah pulang kampung menjenguk nenek mereka di sana. Ardi pun berharap, mungkin dengan moment pulang kampung ini untuk sejenak ia bisa menerima kenyataan pahit harus di terimanya kemarin.

Singkat cerita…
Perjalanan di kapal selama beberapa hari cukup membosankan juga. Meski bosan namun ada sensasi yang berbeda ketika berlayar dengan menggunakan kapal laut. Ardi bisa singgah di pelbagai pelabuhan kota besar di Indonesia dan turun sebentar untuk menikmati ciri khas kota-kota tersebut. Tak lupa pula di setiap singgah di pelabuhan-pelabuhan itu Ardi selalu mengabari pada Nessa dan Nessa selalu tersenyum setiap Ardi memberi kabar padanya. Nessa hampir tak percaya jika sebentar lagi ia akan bertemu dengan sahabatnya yang selama ini beberapa tahun lalu di kenalnya hanya lewat dunia maya, SMS, dan telepon.

Kurang lebih lima hari telah berlalu hingga kini Ardi telah sampai di kota tujuan mereka.
———
”Ah… Akhirnya sampai juga, rindu juga dengan nenek”
desis ardi sambil menarik nafas panjang menghirup aroma udara kota Surabaya pagi itu.

”Selain bertemu dengan nenek mungkin sebentar lagi aku akan bertemu dengan Nessa. Nessa… I’m coming…!!”
serunya dengan ceria sambil tersenyum simpul.
———

Selama satu minggu di rumah nenek cukup membuat Ardi bosan. Ia ingin jalan-jalan ke Jakarta ke rumah adik dari ibunya, yaitu bibi Nur.

———-
”Ma… Aku pengen main ke jakarta, jalan-jalan kesana mumpung lagi di jawa”
Kata Ardi minta ijin pada mamanya. Sang mama sedikit kaget dengan keinginan anaknya itu.

”kamu berani kesana sendirian.??”
Tanya mamanya tak percaya.

”Kenapa enggak ma, nanti tinggal suruh tante Nur untuk jemput di pelabuhan aja. Rencana sih naik kapal aja, toh satu hari juga nyampe”
Kata Ardi menjelaskan.

”Ya sudah, terserah kamu aja, jangan lupa hubungi tantemu dulu supaya nanti jemput di pelabuhan. Oh iya, mama titip pesan buat tantemu itu, jangan sampai lupa”.
Kata mamanya tanda setuju.
————

Hari itu pun tiba, kini Ardi telah berada di atas kapal yang akan membawanya ke Jakarta. Sambil berjalan-jalan di luar Deck kapal, Ardi memandang lautan lepas dan tampak disana terbentang daratan pulau jawa yang memanjang dengan berbagai aktifitas penduduknya di dekat pantai. Ardi termenung memandang jauh kedepan dan bertanya-tanya sedang apa gerangan Nessa di sana.? Iseng-iseng Ardi mengambil ponselnya dan mengetik sebuah SMS untuk Nessa.

”Assalamu’alaikum… Nessa lagi apa.? Aku udah di kapal nih dalam perjalanan ke Jakarta. Ntar jemput aku di pelabuhan ya, oh iya siapin juga karpet merahnya πŸ˜€ )”

10 menit kemudian ponselnya berdering, Nessa meneleponnya. Ardi pun mengangkat ponselnya.

—————-
”Halo, Assalamualaikum…”
Jawab Ardi

”Wa’alaikumsalam… Ardi udah nyampe mana.?”
Kata Nessa

”Gak tau nih udah nyampe mana, tapi kayaknya udah nyampe setengah perjalan deh”
Kata Ardi…

”Aduh… Aku lagi kerja sekarang, jadi kayaknya gak bisa jemput kamu pake karpet merah deh”
Canda Nessa.

”Kalau gak ada karpet merah pake karpet yang biru juga gak apa-apa”
Balas Ardi…

”Yah karpet birunya masih kotor, gimana kalo kamu aja yang langsung ke tempat kerja ku sekalian jemput”
Jawab Nessa iseng…

”Huahahaha… Dasar tukul, bentar ada tante n om ku yang jemput di pelabuhan. Jadi kamu gak usah terlalu cemas ya”
Kata Ardi sambil terkekeh…

”Idih… Dasar GR, siapa yang cemas.? Wleeeeeckk…”
Jawab Nessa sambil tertawa

————

Tanjung Priuk, 10.15 a.m
Ardi melangkah menuruni tangga kapal yang di tumpanginya sambil menggendong tas ransel yang ada di punggungnya. ”Jakarta… Akhirnya tiba juga di sini…” gumamnya dalam hati. Keluar dari bangunan ruang tunggu pelabuhan, matanya jelalatan mencari sosok tante dan om nya. Dari arah belakang seseorang memanggil namanya. ”Heiii…. Ardi…!!!”. Ardi menoleh dan rupanya sang tante yang memanggilnya tadi. ”aduh… Om… Tante… Akhirnya ketemu juga” kata Ardi sambil mendekat dan mencium tangan tante dan om-nya itu.

Setelah bertanya kabar dan basa-basi sebentar mereka pun masuk ke mobil dan menuju ke daerah Cijantung, tempat dimana tante dan om-nya tinggal. Selama di mobil mereka banyak tanya-tanya tentang kabar orang tua Ardi, soalnya sudah beberapa belas tahun mereka tak bertemu. Satu jam kemudian mereka tiba di rumah tante Ardi. Mereka mempersilahkan Ardi untuk mandi dan beristirahat karena perjalanan jauh barusan. Ardi hanya mengagguk, dan beberapa waktu kemudian ia telah berbaring di kamar yang sudah di sediakan untuknya.

”Ah… Sedang apa ya dia sekarang.? Sebaiknya aku ngasih kabar kalau aku udah nyampe di sini”
gumamnya.

Di ambil ponsel kesayangannya dan mengetik sebuah pesan singkat untuk Nessa. ”Nesaa, aku udah nyampe di jakarta. Bahkan sekarang udah di rumah tante ku. Kapan-kapan kita ketemuan yah”. Beberapa menit kemudian Ardi tertidur dengan pulasnya.

Hari ini hari minggu…
Ardi dan Nessa udah janjian akan ketemuan hari ini. Tadi pagi Ardi sudah meminta ijin pada tantenya jika dia akan pergi jalan-jalan bersama temannya.

”Tante ijinkan, tapi kamu udah tau rute dan naik kendaraan apa untuk kesana.?” Tanya tante Ardi.

”Udah tante, dia udah ngasih tau gimana caranya biar bisa kesana, tante tenang aja. Kalo ada apa-apa nanti aku kabari tante” Kata Ardi berusaha meyakinkan tantenya.

Setengah jam kemudian Ardi sudah duduk di dalam sebuah angkot yang akan membawanya bertemu Nessa. Setelah turun beberapa kali untuk berganti angkot dan bertanya pada beberapa orang akhirnya Ardi sampai juga di tempat dimana mereka janjian untuk ketemu. Selama di angkot tadi sih Ardi sempet SMS-an dengan Nessa, katanya Nessa udah nunggu dan menggunakan baju warna ungu. Sejenak Ardi mengitari pandangan ke segala arah.

”Ahaa… Mungkin itu dia” gumam ardi saat mendapati sesosok wanita berambut panjang berambut ungu sedang berdiri membelakanginya. Ardi bergegas mendekati dan berdiri di sampingnya. ”Nessa…” panggil Ardi pelan. Gadis itu menoleh dan ”whaaat.???” Ardi kaget. Ternyata gadis itu tante-tante yang kebetulan memakai baju berwarna ungu. Wajahnya berbeda dengan wajah Nessa yang selama ini di kenalnya.

”Mmm… Maaf mbak saya salah orang” buru-buru ardi meminta maaf dan segera berlalu dari tempat itu.

”Hufff… Mau ketemuan aja susah banget” keluh Ardi sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Nessa.

”Hallo nessa, kamu dimana.? Aku udah nyariin kamu kok gak ketemu-ketemu.?? Malah tadi sempet salah orang”
omel Ardi kesel.

”Hehehe, maaf… Aku juga dari tadi nyariin kamu. Eh coba di kamu balik badan sekarang. Kayaknya malah aku yang nemuin kamu deh”. Kata Nessa di ujung telepon.

Ardi segera membalik badannya dan menatap jauh kedepan di seberang jalan. Di ujung sana tampak seorang gadis manis berbaju ungu sedang menatap kearahnya sambil menggenggam ponsel yang ada di telinganya. Nessa melambaikan tangannya ke atas pertanda jika kini Ardi tidak salah orang. Ardi balas melambaikan tangannya dan mereka berdua kini sama-sama tersenyum.

”Nessa di situ aja, biar aku yang kesana” Lanjut Ardi sambil menutup teleponnya. Beberapa saat menunggu lalu lintas agak berkurang, Ardi menyeberang dan menemui Nessa.

“Nessa” kata Ardi takjub dan berusaha meyakinkan lagi.

“Iya aku Nessa, kamu Ardi kan.?” Balas Nessa lagi hampir tak percaya juga.

Untuk sejenak mereka saling berpandangan dan tersenyum. Rasanya hampir tak percaya jika kini disini mereka saling berdiri berhadapan menatap satu sama lain sambil tersenyum.

”eh kita jalan yuk, masak mau jadi patung seharian disini.??”
Kata Nessa memecah kesunyian di antara mereka.

”Emmm… Oke, aku ngikut aja”
Jawab Ardi tanda setuju…

Sambil berjalan Ardi bertanya
”Kita mau kemana.?”

”Gimana kalau ke Ancol, lebih deket dan aq juga sering kesitu”
Jawab Nessa antusias.

”Oke deh, aku pasrah, hehehehe”
Kata Ardi sambil tertawa.

Langit agak mendung saat mereka tiba di Ancol, Nessa mengajak Ardi bermain mencoba beberapa wahana yang ada di sana. Mereka tertawa lepas karena mungkin esok hari mereka tak akan bisa seperti ini lagi. Puas berkeliling-keliling Ardi mengajak Nessa duduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke arah laut. Angin laut bertiup lembut menerbangkan rambut Nessa kebelakang.

Sejenak Ardi nenatap gadis itu dan teringat sesuatu…
”Oh iya, aku bawa sesuatu buat kamu. Sebelum kesini tadi aku udah nyiapin ini” Kata Ardi sambil membuka tas kecil yang ada di pinggangnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak yang di bungkus kertas bermotif kembang warna-warni. Kemudian di berikannya kotak tersebut di pangkuan Nessa.

”Apaan nih.?”
Kata Nessa heran.

”Kamu boleh membukanya sekarang”
Jawab Ardi sambi tersenyum.

Gak sabar dan penasaran dengan isinya Nessa lalu membuka kotak berlapis kertas warna-warni itu. Beberapa detik kemudian ekspresi wajahnya tersenyum senang.

”Ahhh… Coklat… Besar lagi, thanks ya di. Ku makan sekarang yah. Mmmm… Kamu mau.?”
Kata Nessa sambil memotong Coklat persegi empat itu dan memberikan potongannya pada Ardi.

”Boleh, siapa takut. Ntar kita lihat giginya siapa yang paling item gara-gara coklat ini”
Tantang Ardi sambil tertawa.

Dan… Mereka berdua pun ngobrol kesana kemari sambil makan coklat di bangku itu. Tak jarang mereka tertawa berdua dan Nessa sesekali memukul ringan ke arah Ardi jika bercandanya sudah agak keterlaluan.

”Ar tau gak, aku hampir gak percaya aja sekarang kita ada di sini duduk bareng, ketawa bareng, makan coklat bareng, jalan-jalan bareng setelah semuanya hanya mimpi”
Kata Nessa

”Oh… Jadi selama ini kamu ngimpiin kita bisa bareng-bareng kayak gini yah. Ow ow ow ow… Hihihihi…”
Jawab Ardi sambil ketawa.

”Iiiihhh… Dasar GR, serius tau…!!!”
Kata Nessa kembali memukul Ardi kesel.

”Hehehehe… Iya iya serius…”
Ardi ketawa sambil berusaha menghindari pukulan Nessa.

”Iya aku juga gak percaya sekarang kita bisa ketemu setelah selama ini kita cuma bisa telponan, SMS-an, n Chatting. Serasa mimpi yang jadi kenyataan”
Lanjut Ardi serius…

”Eh itu, ada bapak-bapak yang bawa gitar. Aku mau pinjam dulu yah.” Kata Ardi semangat saat melihat seorang bapak-bapak yang sedang duduk mengobrol santai bersama rombongannya.

”Gitar.?? Buat apaan.?”
Tanya Nessa gak mengerti

Ardi hanya diam dan beranjak mendekati bapak-bapak itu. Setelah berbicara sebentar terlihat bapak itu menoleh ke arah Nessa. Beberapa detik kemudian Ardi kembali dengan membawa gitar itu.

”Ayo kita nyanyi, kamu mau kan kita nyanyi bareng.? Soalnya selama ini kita cuma bisa nyanyi bareng lewat telepon”
Jawab Ardi sambil tersenyum. Ardi kembali segera duduk di samping Nessa dan memetik gitar itu. Ardi mengajak Nessa menyanyikan beberapa lagu dari Sheila On 7, Peterpan, dan Base Jam.

”Dan… Pabila esok… Datang kembali… Seperti sediakala di mana ku bisa bercada… Dan… perlahan kau pun… Lupakan aku… Mimpi burukmu dimana tlah ku tancapkan duri tajam… Dan kau pun menangis… Menangis sedih… Maafkan aku…”

”Waktu terasa semakin berlalu tinggalkan cerita tentang kita… Akan tiada lagi kini tawamu tuk hapuskan semua sepi di hati… Ada cerita… Tentang aku dan dia… Saat kita bersama saat dulu kala… Ada cerita tentang masa yang indah saat kita berduka… Saat kita tertawa…”

Nessa kemudian terdiam, ingatannya kembali saat Ardi menelponnya dulu dan tanpa sadar mereka menyanyikan lagu ini saat itu. Dan sekarang semua jadi kenyataan mereka bisa nyanyi bareng, disini, di tempat ini. Nessa tersenyum ke arah Ardi dan memandanginya.

”Ar… Kamu romantis…, bikin aku jadi gimana gitu saat kita nyanyi bareng tadi”
Nessa berkata dalam hati.

”Eh udahan ya nyanyinya, aku janji pinjem gitar ini cuma bentar tadi. Sekarang aku balikin dulu gitarnya”
Ardi beranjak dan mengembalikan gitar itu pada si bapak tadi seraya mengucapkan terima kasih.

”Emang tadi kamu bilang apa ama si bapak ampe dia mau pijamin gitarnya sama kamu.?”
Tanya Nessa heran.

”Iya tadi aku bilang istri saya lagi ngidam pengen di nyanyiin pake gitar, makanya dia langsung ngerti n pinjamin gitarnya ke aku. Hahahahahaha…”
Jawab Ardi sambil tertawa lepas.

”Ah… Dasar kamu.!!!”
Teriak Nessa sambil mencubiti lengan Ardi dan mengacak-acak rambutnya.

”Awww… Sakit… Sakit… Ampuuun…”
Erang Ardi sambil berusaha menghindar.

Oh iya, bentar kita foto-foto yah. Kan sayang kalau udah jauh-jauh dateng and kita ketemuan gak kita abadikan. Mau yah…”
Pinta Ardi. Nessa hanya mengangguk dengan wajah cemberut.

”Ih… Masih cemberut aja, jelek tau. Coba sekarang senyum, dikit… aja”
Rayu Ardi sambil mengeluarkan ponselnya. Nessa tersenyum sedikit.

”Ih… Masih jelek, senyumnya di lebarin dikit”
Nessa kemudian tersenyum lagi, kali ini lebih manis. Tiba-tiba ”Cklick.!!!” Arsi membidikkan kamera ponselnya menangkap obyek senyum manis Nessa.

”Naah kalau beginikan lebih cantik”
Kata Ardi sambil memamerkan hasil jepretannya pada Nessa.

”Ih mau foto gak bilang-bilang, ya udah kita foto bareng yuk sekarang”
Ajak Nessa manja, untuk selanjutnya mereka foto-foto dengan menggunakan berbagai objek background yang menarik di sekeliling mereka. Gak jarang juga mereka berpose bareng dan meminta orang-orang yang kebetulan lewat untuk menjepret mereka.

Capek jalan-jalan Ardi mengajak Nessa untuk makan, kebetulan hari udah siang. Untuk urusan kuliner yang satu ini Ardi menyerahkan semua pada Nessa. Karena Nessa mungkin jauh lebih tau dimana tempat makan plus nongkrong yang enak di sekitar situ. Selesai makan mereka jalan bareng lagi, pandangan Nessa tertumbuk pada salah satu gerai es cream kesukaannya. Ardi udah paham, tanpa banyak komentar ia menarik tangan Nessa kesana dan memesan 2 buah es cream. Dari tempat Es cream mereka duduk bareng lagi di sebuah ayunan yang ada di sekitar tempat itu.

”Ar… thanks ya es cream-nya, es nya enak”
Celetuk Nessa.

“Iya sama-sama, aku juga pengen nyobain es cream ini. Soalnya selama ini cuma lihatin di TV aja, hehehehehe”
Jawab Ardi sambil menikmati Es cream-nya.

“Eh lihat, apaan tuh.??” kata Ardi sambil menunjuk sesuatu.

“Mana.??” kata Nessa kaget dan mengikuti arah yang ditunjukan Ardi.

“Kalau kayak gini pasti lebih cantik” Kata Ardi sambil mencolek es cream-nya sedikit dan menempelkannya di pipi Nessa.

“Ih… Apaan sih, Aaaa… Ardi.!!! Awas kamu ya.!! Nih rasain punya aku.!!” Nessa menjerit karena di kerjain Ardi kali ini. Dan mereka pun bermain colek-colekan es cream.

Tak terasa hari semakin bertambah siang saat sayup-sayup terdengar adzan Dzuhur di kejauhan. Ardi kemudian berdiri dan menarik tangan Nessa.

“eh… eh… mau kemana.? Main tarik aja sih.!!??”
Seru Nessa kesel.

“Udah… pokoknya ikut aja. Ssssttt…”
Ajak Ardi tanpa menjelaskan akan mengajak Nessa kemana.

Mereka berjalan menyusuri fasilitas-fasilitas yang ada di daerah ancol hingga sampailah mereka di sebuah mushalla yang ada di sana.

“Ikut aku sholat yah…”
Kata Ardi…

“Tapi… tapi… aku nggak bawa mukena…”
Jawab Nessa.

“Kalau begitu tunggu bentar disini”
Kata Ardi sambil berlalu meninggalkan Nessa. Tak lama kemudian Ardi kembali membawa sehelai mukena untuk Nessa.

“Ini aku pinjam dari ibu yang baru selesai sholat di sana, kita Sholat yuk. Ibunya nungguin tuh”
Ajak Ardi, Nessa mengangguk dan menatap Ardi beberapa saat.

Ardi dan Nessa kemudian wudhu dan sholat di dalam Mushola itu bersama-sama secara berjama’ah. Saat selesai sholat Nessa berdo’a dan tampaknya ia sedikit meneteskan air mata sesaat dan Ardi sekilas bisa memperhatikannya. Keluar dari musholla Ardi segera mengembalikan mukena tersebut setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada sang ibu yang telah mau berbaik hati meminjamkan mukenanya.

Saat Ardi kembali Nessa terus menatapnya, Ardi merasa ada yang aneh dengan tatapan Nessa.

“Nessa kenapa.? Jadi aneh gitu tatapannya.?”
Tanya Ardi heran…

“Enggak… enggak apa-apa…”
Kata Nessa sambil menunduk…

“Ihhh… Nessa kenapa” kata Ardi sambil mengangkat dagu Nessa ke atas.

“Hei… Nessa nangis.??” tanyanya lagi sambil menghapus tetesan air mata Nessa di salah satu sudut matanya.

“Nggak usah kamu bilang aku juga udah tau kok”
Kata Ardi sambil tersenyum

“Emang Ardi tau apa” Tanya Nessa heran.

“Eng… Enggak… enggak tau apa-apa kok” Jawab Ardi sambil menarik nafas panjang dan kemudian tersenyum.

“Kita jalan lagi yuk” sambungnya beberapa saat kemudian.

“Enggak ah… Capek… Duduk aja yuk” ajak Nessa.

“Ya udah kita cari tempat buat nongkrong” kata Ardi sambil kembali berjalan bersama Nessa.

Beberapa lama berjalan, mereka sampai dan duduk di sebuah bangku yang berada di sekitar situ. Mereka kembali mengobrol apa saja mulai dari pertama kali bertemu di dunia maya hingga saat ini mereka akhirnya bisa ketemu saling bertatap muka di dunia nyata. Ahhh… semua terasa seperti mimpi saat ini di mana mereka bisa benar-benar bertemu dan tertawa bersama dalam jarak sedekat ini.

Tiba-tiba sebuah SMS masuk di ponsel Nessa mengejutkan mereka. “Ayank lagi di mana.?” bunyi SMS itu. “Oh Rea yang SMS” kata Nessa sambil membalasnya dengan memberi tahu posisi mereka sekarang saat ini.

“Ar… Kamu tau gak.? Aku seneng banget kita akhirnya bisa ketemu dan lalui hari ini dengan penuh ceria. Mungkin next time kita gak akan bisa seperti ini lagi” ucap Nessa akhirnya setelah mereka terdiam beberapa lama. “Iya, aku juga senang dengan pertemuan kita ini dan aku juga nyaman bisa jalan sama-sama kamu. Kamu lucu dan mau aku ajak bermain-main, coba kita bisa seperti ini tiap hari” kata Ardi sambil menarik nafas panjang dan memandang langit yang masih berselimut mendung hitam.

“Mmmm… Apa kita gak sebaiknya pulang sekarang.? Lihat hujan sepertinya akan turun. Nanti kita kehujanan gimana.?” kata Ardi sedikit cemas. “Enggak apa-apa kehujanan, yang penting sama-sama kamu. Bukannya kamu suka hujan.?” kata Nessa sambil ikut-ikutan memandang langit mendung di atas sana. Ardi sedikit terkejut dan menoleh menatap gadis yang ada di sampingnya. Sejenak dia tersenyum dan mencubit hidung gadis itu “Hehehehe, dasar kamu…”.

“Sekarang coba deh kita merem bareng, terus bayangin kita lagi jalan di bawah hujan sama-sama sambil gandengan tangan. Ummmmm…” kata Ardi sambil memejamkan mata dan menggenggam tangan Nessa. Nessa pun mengikuti apa yang Ardi sarankan. Tiba-tiba angin dingin berhembus dan membawa terbang perasaan mereka. “Uhhhhh… Ar kamu ngerasain sesuatu gak.?” tanya Nessa sambil tetap memejamkan mata. “Iya, Romantis…” jawab Ardi tersenyum, masih memejamkan mata seakan tak mau meninggalkan imajinasi tentang mereka berdua.

“Kalau begitu kenapa tidak kita lakuin sekarang” kata Nessa tiba-tiba. “Apa.?” kata Ardi tak mengerti. “Kita jalan-jalan di bawah hujan” ajak Nessa. “Tapi nanti kamu sakit gimana, kamu kan cewek cengeng, suka gampang sakit hihihihihi…” kata Ardi dengan nada bercanda. “Enggak apa-apa, kan ada kamu…” jawab Nessa mantap. Ardi kini tersenyum “baiklah kalo itu mau kamu” katanya sambil berdiri dan mengulurkan tangan, Nessa ikut tersenyum dan menerima uluran tangan Ardi dan selanjutnya mereka jalan berdua sambil bergandengan tangan.

“Eh ati-ati tuh tangganya agak curam” kata Ardi mengingatkan saat mereka menuruni sebuah turunan anak tangga. Sial, sandal Nessa yang ber-sol agak tinggi sedikit oleng saat Nessa menapakkan kakinya di salah satu anak tangga dan menyebabkan keseimbangannya goyah. Ardi berusaha menahan genggaman tangan gadis itu tapi terlambat. Akibatnya Nessa terjatuh terpeleset dan menyebabkan kakinya terkilir. “Awwww… Sakit…!!!” Nessa berteriak sambil meringis saat Ardi memeriksa kakinya.

“Aduh, kayaknya keseleo nih, ini aja sampai agak membiru pergelangannya”. “Aduh sakit Ar…” rintih Nessa kesakitan. “Gak ada jalan lain, kayaknya aku harus gendong kamu nih pulang” putus Ardi setelah mengamati keadaan Nessa yang sepertinya tidak kuat berdiri. Ardi segera membalikkan punggungnya dan menggendong Nessa di belakang. “Ar… Maaf ya aku merepotkan kamu” kata Nessa di gendongan Ardi. “Hehehe, iya gak apa-apa.? Masak iya aku mau tinggalin kamu dalam keadaan gini.? Ummm… Gak jadi jalan hujan-hujanan dunk kalau begini” goda Ardi sambil terus berjalan. “Ih… Dasar kamu” kata Nessa sambil mencubit pipi Ardi.

Saat berjalan beberapa meter Nessa merasakan sebuah tetesan air hujan di hidungnya. Matanya mendongak keatas menatap langit mendung di atasnya. “Ar… Hujan…” katanya. “Eh iya, kita harus cepat berteduh kalau gitu” kata Ardi sambil mempercepat langkah kakinya. Namun tiba-tiba…

“NESSAAA…!!!”
Sebuah teriakan keras memanggilnya dari arah samping. Nessa dan Ardi menoleh mencari asal suara itu. “Rea.??” Nessa kaget, Ardi juga kaget. “Ngapain kamu disini.?? Sama siapa ini.?? Kenapa lagi mesti gendong-gendongan segala.??”. Ardi segera menurunkan Nessa dari gendongannya dan memapah Nessa agar tetap bisa berdiri. “Maaf… Aku sedang jalan-jalan dengan Ardi, ini Ardi yang pernah aku ceritain dulu. Dia datang kesini dan aku mau nemeni dia jalan-jalan” jelas Nessa. “Oh… Jadi kamu Ardi ya, terus kenapa mesti pake acara gendong-gendongan segala.!!??” kata Rea ketus, sepertinya dia tak suka dengan kehadiran Ardi di samping Nessa.

“Sorry sebelumnya Re, aku yang ngajak jalan Nessa. Kakinya tadi keseleo makanya aku terpaksa gendong dia. Gak mungkinkan kalau aku tinggalin dia sendiri. Nessa gak salah…” kali ini Ardi yang ngomong membela Nessa. “Sorry aku yang salah ampe Nessa jadi begini”. Tambahnya. “Iya tapi gak perlu gendong-gendong segala kali, kan bisa dengan cara lain” kata Rea masih ketus. “Aku gak mau tau, pokoknya sekarang kita pulang” kata Rea sambil menarik tangan Nessa.

Nessa menggeleng dan menarik tangannya. “NESSA.!!” bentak Rea. “Nessa, sebaiknya kamu pulang dengan Rea. Aku gak mau kenapa-kenapa kamu dengan Rea. Sekarang Nessa pulang ya dengan Rea” bujuk Ardi sambil menatap Nessa. Nessa menggeleng pelan. Ardi menarik tangan Nessa dan menyatukannya dalam genggaman Rea. “Nessa gak usah sedih, mungkin kapan-kapan jika Allah mengijinkan kita bisa bertemu lagi. Nessa baik-baik ya disini, biar aku yang pergi. Kata Ardi lembut. “Re… Tolong jaga Nessa…” setelah berkata begitu Ardi segera membalik badannya dan berjalan menjauh. Gerimis turun perlahan seiring kepergian Ardi. Tanpa terasa air mata Ardi jatuh bercampur dengan air hujan yang menerpa wajahnya.

Sementara Nessa berdiri mematung menyaksikan sosok Ardi yang kini berjalan pelan meninggalkannya. “Sudahlah, sekarang ayo kita pulang. Hujan semakin deras…” kata Rea membujuk Nessa dan menggandeng tangannya untuk segera beranjak dari tempat itu tapi Nessa menahan tangannya dan berteriak “ARDIII……..!!!”. Ardi berhenti saat di dengarnya Nessa memanggil namanya. Nessa menarik tangannya dari genggaman Rea dan kemudian berlari terpincang-pincang mengejar Ardi. “ARDIII…. TUNGGU…!!!”

Kini Ardi membalikkan badan dan menatap Nessa yang susah payah sedang berlari menuju ke arahnya. Nessa menubruk Ardi dan kemudian memeluknya. “Jangan pergi Di… Please…” katanya sambil terisak. Ardi menatap Nessa dan mengangkat dagunya. “Gadis cengeng…” katanya sambil menghapus air mata Nessa dan mengusap rambutnya yang kini basah menutupi wajahnya. “Biarin… Kamu juga cowok bodoh… Kamu mau kehilangan ku lagi.?” kata Nessa sambil menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Ardi. Hening… Ardi memejamkan matanya kemudian menggeleng, dan kemudian mencium kening Nessa lalu memeluknya dengan erat.

http://dykas60v5.files.wordpress.com/2012/01/peluk-aku.jpg?w=510 HUG ME NOW

Sayup-sayup terdengar lagu “You’ll be my heart” miliknya Phill Collin mengalun di tengah gerimis sore itu. Dari kejauhan Rea masih berdiri di tempatnya dan menatap mereka dengan tatapan kosong…

Be my valentine but not for Valentine…
Inspirated by D.R.E.A.M

Iklan

52 thoughts on “Sebuah Cerpen Tentang Secret Admirer #Part 2 – Dont Go From My Life

    • wkwkkw…wkwkkw…..Ya udah ganti cerpan..!!
      Itu kan ceritanya masih berlanjut,jadi tunggu aja selanjutnya…hehhe…ehehh….(Pantas kan namanya jadi cerpen)
      #Jitak zalz pake helm πŸ˜›

  1. β€œKalau kayak gini pasti lebih cantik”. . .
    mencium kening Nessa lalu memeluknya dengan erat. . . .
    #sensoooooooooooooor. ahahahahahaha

    cerita ini hanya fiktif belaka dan apabila terdapat kesamaan nama dan setting kami mohon maaf sebesar-besarnya. wkwkwkwkwkwkwk.

    traktiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiir dunk sist. . .ahahahaha. πŸ˜›

    • hahah…hahhaah….bilang bagus tapi emang beneran udah baca dari awal sampe akhir yah???(gak yakin)
      Makasih ya mas mau nunggu,BTW…..nunggu jadi apa yah..??? πŸ˜€

      Apa singaaaa….?????

Komentar ditutup.